Manifestasi dan Partisipasi Demokrasi di Lingkungan Madrasah Aliyah Istimewa (MAI) Amanatul Ummah Pacet Mojokerto

Oleh: Bahiyyatul Hikmah Al Ghulami "siswa kelas XII Saintek SKS 2 Tahun"

Dewasa ini, paradigma mengenai pesantren sebagai lembaga pendidikan dengan ruang lingkup yang sempit dan terbatas sudah harus diperbaharui. Tidak hanya soal pendefinisian yang sederhana, tapi juga dari dimensi potensi dan fleksibilitas pesantren dalam menerima serta menjalankan fungsi yang lebih luas baik di lingkungan pesantren itu sendiri maupun di lingkungan masyarakat.

Banyak sekali pondok pesantren-pondok pesantren salaf dan modern yang telah menembus batas ekspektasi publik terkait kapasitas sistem lembaga pendidikan Islam yang sudah ada sejak abad ke-14 ini. Bila kita mencermati lagi tren dan mode pesantren yang berkembang dari tahun ke tahun, kita akan dapat menemukan bahwa terdapat suatu bentuk semangat revolusi datang dari kalangan muda-mudi calon kader masyarakat Islam yang ingin mengekspresikan kreativitas dan aspirasi mereka melalui integrasi dengan pesantren masing-masing. Dari banyaknya contoh, boleh dikatakan bahwasanya organisasi intrasekolah (OSIS) adalah wadah paling potensial dan menjamin bagi realisasi nilai-nilai pembaharuan dalam lingkungan pondok pesantren tanpa harus menghilangkan unsur kepesantrenan itu sendiri.

Demokrasi adalah salah satu elemen yang dapat dengan baik diperkenalkan ke dalam kehidupan pesantren. Kita sebagai warga negara Republik Indonesia sudah sepatutnya mengerti akan peran masyarakat dalam mewujudkan demokrasi yang sehat di negara ini. Maka dari itu, pentinglah apabila penanaman nilai-nilai demokrasi sudah dilakukan sejak masa SMA/MA baik di sekolah negeri maupun swasta, umum maupun khusus. Dalam hal ini pesantren pun tidak terkecuali. Dengan memperkenalkan dan mewujudkan lingkungan demokratis bagi santri-santri pondok pesantren yang sudah berada di jenjang SMA, diharapkan saat mereka diluluskan ke masyarakat kelak, mereka pun dapat merealisasikan poin-poin kebebasan dengan baik serta dapat berperan aktif dalam kegiatan organisasi-organisasi kemasyarakatan lainnya guna mewujudkan masa depan Republik Indonesia yang maju, sejahtera, dan sesuai dengan norma kebebasan-kerakyatan.

Bicara tentang penerapan demokrasi di lingkungan pesantren, kita dapat melihatnya dari berbagai segi, tentunya termasuk dalam konteks OSIS sendiri. Suatu organisasi yang diketuai oleh seorang pemimpin pastilah harus bersinggungan dengan aspek ini. Untuk mendapat gambaran mengenai realisasi demokrasi tersebut, mari ambil sampel dari salah satu pondok pesantren paling terkenal di Indonesia. Amanatul Ummah Surabaya & Mojokerto dibawah asuhan Prof. Dr. K.H Asep Saifuddin Chalim, MA. telah menjadi teladan bagi pondok-pondok lain dalam urusan mengelola sistem pendidikan, pengembangan maksimal potensi para santri, penargetan peruntukan lulusan dan alumni, serta pengintegrasian nilai-nilai modern dalam dunia pesantren secara utuh dan ideal. Seluruh OSIS dari kelima lembaga cabang Yayasan Amanatul Ummah telah membuktikan kehebatan para anggotanya dalam mengekspresikan nilai-nilai keorganisasian dengan optimal, dalam hal ini demokrasi. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bahwa Amanatul Ummah tidak hanya menekankan pada kemanfaatan OSIS di lingkungan sekolah, tetapi juga pada pengembangan diri masing-masing anggota agar memiliki jiwa yang unggul, utuh, dan mampu menjawab persoalan-persoalan pembaharuan yang datang seiring  zaman.

Kamis, 11 September 2025, di lantai dua masjid besar K.H. Abdul Chalim, terdengar jelas riuh-redam menggelora dari para pelajar muda Madrasah Aliyah Istimewa (MAI) Amanatul Ummah yang sedang menyaksikan debat calon ketua dan calon wakil ketua Organisasi Santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah CI-Exellent (OSPACE). Siswa-siswi duduk berjejer rapi. Beberapa dari mereka membawa beberapa kardus atau kertas yang ditulisi kata-kata  penyemangat. Mereka menggunakannya dalam upaya memberi spirit kepada para bakal pemimpin yang mereka dukung. Sementara penonton bersorak-sorai dan menyanyikan yel-yel, para kandidat berdiri di atas panggung berhadapan dengan ratusan santri, memegang microphone dengan percaya diri, lantas menyampaikan identitas, visi-misi, serta program kerja mereka untuk keberlangsungan dari OSPACE dan MAI yang akan datang. Dengan tatak mereka mampu berargumen, mempertanyakan argumen lawannya, memperkuat dan meyakinkan audiens mengenai kompetensi dan kapasitas mereka. Suasana riuh dengan gempita dukungan kepada masing-masing paslon yang maju. Para penonton semakin bergemuruh saat salah seorang kandidat mampu membantah telak gagasan kandidat lain.                                                                                                           

Inilah suasana debat calon ketua dan wakil ketua OSIS yang diselenggarakan oleh OSPACE MAI. Kegiatan ini adalah satu dari serangkaian agenda KPU yang sudah dilaksanakan sejak satu minggu yang lalu, dimulai dengan seleksi calon ketua dan wakil ketua. Dalam pelaksanaannya, program ini telah menjadi bagian dari Madrasah Aliyah Istimewa sejak lama. Kelak, hasil dari debat ini akan berkontribusi dalam menentukan jumlah suara terbanyak yang akan mengantarkan salah satu diantara para calon menjadi ketua dan wakil ketua organisasi santri intrasekolah tersebut.

Tentunya keberhasilan agenda ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi OSPACE yang dapat menerapkan norma demokrasi dalam memilih pemimpin masa depan.  Hal ini seperti yang dinyatakan oleh pengasuh OSPACE Putra dalam sambutan beliau, Ustadz Sukarno, hadir dalam kegiatan diantara jajaran guru yang mengajar pada hari itu untuk menyaksikan bagian dari pemilihan ketua dan wakil ketua tersebut.

“Saya bangga, OSPACE telah berhasil menjalankan suatu agenda yang dapat diikuti bersama oleh para santri, sehingga akan dapat mempertahankan tradisi ini, sebab tradisi inilah kunci dari suara teman-teman kalian dalam memilih pemimpin. Mereka akan menentukan mereka ingin dipimpin siapa, diatur oleh siapa, maka dari itu mereka pun harus memilih yang terbaik dari semuanya.” tutur beliau. “Besok, kalian akan mengalaminya secara langsung di masyarakat. Maka dari itu, berpartisipasilah secara maksimal di kegiatan ini, baik yang memilih ataupun yang dipilih.” demikian Pak Karno memberikan wejangan dan apresiasi kepada para panitia penyelenggara secara kurang lebih.

Adanya kegiatan debat dalam proses pemilihan main leader OSPACE ini merefleksikan pengamalan nilai demokrasi dalam pesantren; yaitu kebebasan memilih figur seorang pemimpin melalui aksi langsung partisipan dalam melihat serta menilai kapasitas dan kompetensi para kandidat. Hal tersebut memberi kita bayangan yang cukup jelas mengenai integrasi poin kebebasan bersuara, kepercayaan diri, kontribusi  dalam komunitas, serta nilai-nilai Islami yang terrangkum dalam visi-misi dari setiap calon terpilih.

Kegiatan pemilihan ini belum selesai. Pagi hari Senin, 15 September 2025, terlaksana pula pencoblosan calon ketua dan wakil ketua pilihan para santri, putra dan putri. Agenda ini dilaksanakan secara tertib dan terkondisi, sehingga tak banyak mengganggu jam kegiatan belajar-mengajar terutama bagi para siswa kelas 12.

Dimulai dari kelas sepuluh, disusul kemudian kelas sebelas, dan diakhiri dengan kelas dua belas, acara KPU ala pesantren ini memiliki banyak persamaan dengan KPU nasional. Pertama-tama, partisipan diarahkan untuk menuju satu ruangan yang telah dipersiapkan sebagai tempat pemilihan. Para santri berjejer rapi menunggu giliran. Di ruangan, terdapat empat kotak penutup berlambang logo OSPACE yang diletakkan di atas meja, lengkap busa dan paku turut disertakan di dalamnya. Para siswa diberikan selembar kertas dengan foto para kandidat ketua dan wakil ketua sebelum menuju masing-masing meja preferensi. Mereka kemudian mencoblos potret calon pilihan mereka, lantas melipat kertas dan memasukkannya ke dalam kardus yang telah disediakan. Usai itu, setiap santri harus menempelkan jari kelingkingnya di stamp pad sebagai bukti mereka telah melakukan pemilihan.

Siang harinya dilanjutkan dengan perhitungan setiap suara dari kertas-kertas yang telah dikumpulkan. Dengan penuh rasa tanggung jawab dan ketelitian, para anggota OSPACE memanfaatkan fasilitas sekolah yang ada seperti papan tulis dan spidol ruang kelas untuk menghitung hasil preferensi secara manual. Cara ini bukan tanpa alasan. Perhitungan dengan cara seperti ini dilakukan demi menghindari kesalahan atau kekeliruan dalam bentuk apa pun, dan agar nanti dapat dipotret hasil perhitungannya guna dijadikan bukti. Hasil dari KPU ini akan dipublikasikan kepada warga MAI Amanatul Ummah setelah dikonversi menjadi diagram lingkaran atau diagram batang sehingga para siswa dapat mengetahui suara mana yang paling banyak memilih calon pemimpin mereka.

Dari contoh di atas, nyatalah bahwa penerapan nilai-nilai demokrasi telah disempurnakan dengan aktivitas pemilihan secara bebas dan aktif oleh OSPACE Madrasah Aliyah Istimewa Amanatul Ummah. Tidak ada paksaan, hanya ada kebebasan penuh. Dari proses penyeleksian calon, presentasi visi-misi, debat antarcalon, hingga transparansi hasil pemilihan serta terpilihnya sang pemimpin baru benar-benar telah sesuai dengan prinsip demokrasi. Para santri pun mengikuti kegiatan dengan antusias, menandakan kesadaran mereka akan pentingnya mengetahui kemampuan seorang calon pemimpin sebelum mereka mempercayakan diri kepadanya untuk dipimpin dan dibina menjadi bagian berkualitas istimewa dari MAI Amanatul Ummah. Usai ini, OSPACE akan menyempurnakan rangkaian kegiatan terakhir dengan pelantikan dan sumpah para anggota baru yangsegera dilaksanakan usai hasil pemilihan keluar. Tak peduli siapa pun yang terpilih nanti, para santri telah mengerti, bahwa calon pemimpin mereka seluruhnya punya potensi dan kapabilitas masing-masing. Diharapkan nantinya, pemimpin baru OSPACE tersebut dapat mengemban tugas dengan baik dan amanah, mampu mengelola organisasi dengan baik, menjadi pengaruh dan teladan bagi kawan-kawannya, serta dapat merealisasikan visi-misi mereka secara maksimal.

Perjalanan panjang pondok pesantren, khususnya Amanatul Ummah, dalam menciptakan wujud baru dari pesantren yang mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lain dan fleksibel dalam perannya terhadap lingkungan sendiri juga masyarakat masih jauh dari selesai. Kedepannya diharapkan bahwa nilai-nilai perubahan dan kemajuan sosial  dapat selalu diintegrasikan dengan norma Islam dan budaya kepesantrenan agar nantinya dapat mencetak generasi-generasi muda yang aktif, kreatif, inovatif, dan agamis dalam mewujudkan cita-cita bersama.

                                                                                                                                                           

Pacet, Mojokerto

20 September 2025